WHAT'S NEW?
Loading...

Katalog Alnita 2019 Terbaru

Di katalog alnita terbaru kali ini model dengan warna cerah dengan bahan yang nyaman dipakai.
Keunggulan dari kaos viscose atau kaos cvc adalah sebagai berikut:





Katalog Nibras Syar'i 2019 Terbaru 

Gamis Nibras bagi anak-anak, wanita dan pria yang ingin berpenampilan syar’i namun tetap modis, dinamis, manis, cantik serta anggun.



Katalog Nibras Sarimbit 2019 Terbaru

 

Gamis Nibras bagi anak-anak, wanita dan pria yang ingin berpenampilan syar’i namun tetap modis, dinamis, manis, cantik serta anggun.


Katalog Nibras Gamis 2019

 

Gamis Nibras bagi anak-anak, wanita dan pria yang ingin berpenampilan syar’i namun tetap modis, dinamis, manis, cantik serta anggun.


Katalog Ethica 2019 Terbaru

Busana Mulim Anak anak dan dewasa hadir di pasaran untuk memberikan pakaian yang berkualitas dan kenyamanan. Ethica mengusung visi ‘Spiritualitas Islam yang Mencerahkan’ melalui kekuatan warna, variasi motif, design simple, dan matching yang terdiri atas paduan kain kaos terpilih dan kain katun berkualitas. Semoga dengan memakai baju ETHICA Fashion menjadi media untuk menyebarkan Islam yang cerah & ceria.
ETHICA hadir dengan Produk Unggulannya Baju Muslim anak Ethica dan dewasa, Distributor Baju Muslim Online ETHICA memiliki size terlengkap mulai dari anak-anak , remaja dan dewasa dengan bahan yang berkualitas.
Bahaya Acara Reality Show

Kalau kalian percaya dengan acara-acara Reality show macam Katakan putus, Taubat, Rumah Uya, Terangkanlah, Tercyduk, Bikin Mewek, Karma dan acara-acara sejenis.
Maka kalian bisa dikatakan bodoh.
Acara-acara itu hanya settingan, dengan aktor yg cukup piawai, karna mampu memainkan emosi penonton.
Apalagi Ekspedisi Merah yg jelas dan kelihatan betul bullshitnya.
Om Deddy Corbuzier pun sempat menyinggung hal ini di salah satu video yg ada di Channel YouTube nya. Dia bilang, generasi Indonesia akan rusak kalau terus-terusan diisi dengan acara sampah, alay dan gak mendidik.
Aku sangat setuju dengan statement dari orang yg sangat aku kagumi ini. Buktinya, generasi muda Indonesia sudah banyak yg rusak karna sinetron-sinetron sampah.
Reality show sebenarnya memang cuma sebuah hiburan semata. Acara ini ada untuk menghibur. Tapi tentu, karna ada keuntungan yg besar juga bagi mereka.
Walaupun namanya reality show, yg harusnya adalah acara real tanpa skenario, tapi sebenarnya acara-acara reality show yg ada di Indonesia kebanyakan udah dibumbui dengan banyak dramatisasi (pengadeganan), dengan mengikuti skenario yg udah dibuat dan diatur, yg tujuannya untuk menarik orang sebanyak-banyaknya untuk menonton acara itu.
Dan kenapa acara itu harus dibumbui?
Karna harus ada sentuhan-sentuhan dramatis biar lebih membuat penasaran para penontonnya.
Dan biasanya, memang kebanyakan acara reality show macam diatas punya rating yg tinggi karna basis penontonnya yg begitu banyak. Karna itu, banyak stasiun Televisi yg akhirnya berlomba-lomba bikin acara yg sama demi profit (keuntungan) pribadi.
Dan banyak hal Negatif dari acara ini.
Seperti, mengajarkan penonton nya untuk membuka aib sendiri. Mengganggu privasi orang lain. Memata-matai orang lain (padahal ini tindak kriminal). Dll.
Kalau dari sisi Agama, Islam, lebih banyak lagi. Menghalalkan hubungan pacaran, contohnya acara Rumah Uya, disitu ada nenek-nenek yg seperti nya “paham” Agama, tapi mendukung orang pacaran, malah diberi tips dan nasihat untuk hubungan mereka.
Lalu dimana sisi positifnya acara-acara ini?
Kalau kalian tanya aku, maka aku bilang gak ada. Ini adalah opini ku. Mereka (para client) hanyalah aktor yg disewa, dan host nya bertugas membuat acara lebih menarik.
Mungkin sisi positifnya adalah untuk menghibur orang lain. Tapi ingat, orang cerdas adalah mereka yg bisa mencari tontonan yg bersifat edukasi, menambah wawasan, atau iman.
Kalau acara-acara diatas memang tidak bukan settingan, tentu banyak orang yg akan melaporkan host dan acara itu karna privasi nya dibongkar.
Dan kalau kita menonton langsung proses shooting nya, lagi adegan take-in gitu, biasanya akan banyak salahnya. Malah kebanyakan akan di cut. Harus ada briefing-nya dulu, baru lah ribut adu mulut, dan datang lah host dan para crew untuk melerai dengan bijak sesuai skenario, dan bla bla.
Dulu sebelum ada acara-acara itu, ada acara
Termehek-mehek yg sempat menempati rating tertinggi sampai dinobatkan sebagai acara realitas terfavorit di ajang Panasonic Awards 2009.
Tapi tahun 2009 itu sendiri, banyak orang yg akhirnya bertanya-tanya soal realita acara itu. Sampai akhirnya Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Fetty Fajriati Misbach mengatakan kalau Termehek-mehek telah membohongi penonton karena acara itu bukanlah sepenuhnya realita.
Fetty Fajriati Misbach menyatakan kalau harusnya tim program Termehek-mehek jujur dengan menyebut Termehek-mehek sebagai acara drama reality, bukan reality show.
Dan dari Antara pun dikutip, perwakilan Trans Coorporation, Panca, mengakui kalau Termehek-mehek pun bukanlah murni kisah nyata, melainkan cuma drama reality.
“Dari awal, kita maunya drama reality, tapi AC Nielsen tidak memiliki genre itu," katanya.
Termehek-mehek hanyalah contoh, kalau acara-acara diatas pun bisa diketahui settingan nya kalau ditelusuri lebih jauh.
Walau ada beberapa acara reality show Indonesia yg masih bisa disebut real, karna persentase kebenarannya lebih besar dari dramatisasi atau kebohonganya, misal,
Bedah rumah, Uang kaget, dll.
Kenapa? Karna rumah gak mungkin bisa dibangun secepat itu. Dan waktu yg hanya 20-menitan gak akan cukup untuk menghabiskan duit belasan juta. Mereka nyari kendaraan dan menuju pasarnya aja udah habis waktu belasan menit, belum lagi belanja banyak barangnya.
Tapi setidaknya bantuan mereka itu real, dan orang miskin yg nangis karna mereka bantu, juga real.
Sekali lagi, hanya acara-acara reality show diatas walaupun settingan, bohong, tapi gak masalah kalaupun mau ditonton, karna hanya untuk hiburan.
Kecuali Acara Karma, acara ini, jujur saja. Akan merusak Aqidah kalian yg beragama Islam kalau sering menonton nya.
Acara ini banyak melakukan pembohongan, sampai banyak nya Mudharat.
Ada netizen dari forum,
Lautanindonesia(.)com, yg mengungkapkan kalau peserta acara Karma cuma settingan. Netizen yg akunnya bernick-name Ladylicious ini mengatakan kalau para peserta di acara “Karma” dapat bayaran 500 ribu untuk beberapa episode.
Netizen itu juga punya bukti kalau peserta “Karma” memang settingan. Dia pernah meng-upload screenshot InstaStory salah satu temannya yg ikut shooting acara itu.
Di foto itu ada tulisan soal jadwal syuting “Karma”.
Acara ini juga selalu memasukkan hal-hal yg bersifat Takhayul dan Khurafat ke otak penonton, dan penonton pun cepat atau lambat akan mempercayai hal-hal macam ini. Kata khurafat asalnya dari bahasa Arab, al-khurafat yg artinya dongeng, legenda, cerita bohong, kisah, asumsi, kepercayaan atau keyakinan yg gak masuk akal, aqidah yg dibuat-dibuat.
Dan karna dongeng atau kisah-kisah yg gharib, gak masuk akal biasanya menarik dan membuat penasaran, jadi khurafat juga disebut “al-hadis al-mustamlah min al-kidb”, atau cerita bohong yg menarik dan mempesona.
Takhayul bisa bikin orang mengkeramatkan bahkan menyembah pohon, batu atau benda yg dianggap mistis lainnya, mereka beralasan kalau mengkeramatkan batu, pohon, keris dll hanya untuk Taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) atau karna benda-benda itu punya kesaktian yg mampu menolak bencana dan bisa mendatangkan sebuah kemaslahatan.
Dan biasanya orang yg sering seperti ini adalah Islam Kejawen atau Muslim yg dangkal iman dan aqidahnya.
Ini adalah salah satu dampak dari takhayul.
Kalau terus melakukan itu, maka Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Ibadah nya akan keropos dan hancur.
Host acara ini juga seolah-olah udah sangat mengetahui hal ghaib.
Padahal cuma Tuhannya orang Islam yg tau, Allah. Bahkan Jin, Malaikat, sampai Nabi-nabi-Nya sendiri saja pun gak ada yg tahu perkara Ghaib selain Dia.
“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yg mengetahui perkara yg ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak Mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.”
(an-Naml/27 : 65).
Dan siapapun yg mengaku dia tau, maka dia dihukumi kafir.
Ada juga hadits yg melarang untuk mendatangi dukun, paranormal atau orang indigo macam host acara ini.
“Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu lalu ia membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam.”
(HR. Muslim nomor 2230).
Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yg diucapkannya, maka ia telah kafir terhadap apa yg diturunkan kepada Muhammad.”
(HR. Abu Dawud).
Belum lagi mereka dengan mudahnya membuka aib yg sudah Tuhan mereka tutupi, dan ditonton jutaan orang pula (sekarang kisah para partisipannya ini dijadiin semacam sinetron religi cyiinn).
Padahal, ada riwayat dari Abu Hurairah, dia berkata,
“Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda,
“Seluruh umatku akan diampuni dosa-dosa kecuali orang-orang yg terang-terangan (berbuat dosa). Di antara orang-orang yg terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang yg pada waktu malam berbuat dosa, kemudian di waktu pagi ia menceritakan kepada manusia dosa yg dia lakukan semalam (membuka aib) padahal Allah telah menutupi aibnya.
Ia berkata, “Wahai fulan, semalam aku berbuat ini dan itu”.
Sebenarnya pada waktu malam Tuhannya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi justru pagi harinya ia membuka aibnya sendiri yg telah ditutupi oleh Allah.”
(Muttafaq ‘alaih HR. Bukhari dan Muslim).
Rasionalitas akan hal-hal supernatural yg gak logis macam yg sering ada di acara Karma itu akan berkurang keyakinannya, apalagi dia menganut Agama formal yg terinstitusi (institutionalized religion),
yg bahkan melarangnya untuk mengetahui dan mempelajari hal-hal Takhayul dan Khurafat itu.
Semakin rasional seseorang, semakin menjauh dia dari ritual-ritual, dan hal-hal supernatural seperti itu.
Sebaliknya, manusia yg kurang tersentuh rasionalitas, dengan mudahnya akan termotivasi menyakini dan melakukan nya.
Apalagi dia kurang rasional (terbelakang) dan imannya kurang, ilmu Agama gak ada, ya dia akan semakin menjadi-jadi (bodohnya).
Untuk itu, aku sependapat dengan Imam Al-Ghazali yg mengatakan kalau, sebelum berhak mengkritik, kita harus berupaya untuk bisa memahami pendapat yg akan kita kritik itu seperti pemahaman para penganutnya.
(yg ada di buku beliau yg berjudul Maqashid al-Falasifah/Aims of Philosophers, yg mana idenya adalah meneruskan dari Ibnu Sina).
Sedangkan si host, Ryo, Agama nya sendiri pun kita gak tau apaan, dan dia gak paham akan Islam, tapi berbicara hal-hal ghaib dalam Islam.
Aku akan dengan senang hati menonton acara ini kalau bersifat zhanniy (probable) baik dari segi wurud (transmisi) ataupun dilalah/kandungannya, isinya bisa dipertanggungjawabkan dan bersifat qath’iy (pasti), setidaknya dari segi transmisinya yg bersumber dari Islam. Tapi sayangnya tidak. Acara ini full omong kosong.
Aku sendiri adalah orang yg percaya kalau Jin itu ada. Dan bukan hanya dalam Islam, dalam setiap Agama, mereka punya nama khas bagi “Jin” mereka sendiri. Lucifer dalam Kristen Trinitarian, Rakṣasa dan Ashura dalam Hindu, Mara dalam Buddha, atau apapun — you name it.
Tapi aku gak pernah percaya dengan yg namanya Hantu. Aku yakin sekali, kalau Hantu-hantu macam Pocong, Genderuwo, Kuntilmamak, eh, Kuntilanak atau bahkan Tuyul itu hanya semacam taktik licik Jin yg ingin menipu orang Islam agar mereka jauh dari Agama dan Tuhan, lewat proses dramatisasi. Mulai dari arwah orang mati, padahal dalam Islam roh gentayangan itu pun hanya mitos. Minta sesajen ini itu. Minta dikeramatkan. Sampai pada akhirnya orang Islam meminta bantuan mereka dan menyembah mereka, baru mereka akan puas.
Kalau hantu-hantu lokal itu benar ada, kenapa di Eropa atau Arab sana mereka gak ada? Nah.
Hantu-hantu yg biasa ada di Eropa sana pun gak ada di Indonesia.
Dan orang yg paling mudah kena tipu Jin adalah mereka yg cetek imannya, dangkal ilmu Agamanya, dan sedikit akal logikanya.
Misal, orang yg percaya kalau batu Ponari atau pisang yg jantungnya ada banyak itu bisa buat menyembuhkan penyakit.
Semoga yg sering menonton acara Karma bisa berhenti agar aqidahnya gak rusak, dan imannya yg secuil itu juga gak terkontaminasi.
Minta lah pertolongan (‘inayah) dan petunjuk (hidayah) hanya dari Tuhanmu, Sang Kebenaran (al-Haqq) dan Sang Pemberi Petunjuk (al-Hadi), karena kita harus sadar akan keterbatasan-keterbatasan kita sebagai manusia dan hanya Tuhan lah sumber dari segala sumber kebenaran.
A’uudzu bikalimaatillahit taammati min kullisyaithonin wa haam matin wa mingkulli ‘aiininlaammah.
Sebenarnya, KPI (komisi penyiaran Indonesia) pun udah berkali-kali melakukan teguran ke acara-acara macam diatas,
tapi hasilnya tetap aja reality show-reality show ini masih terus bermunculan, malah menjamur di layar kaca Indonesia.
Bahkan KPI sampai menjatuhkan sanksi administratif yg berupa surat tertulis untuk acara-acara itu, tapi sepertinya gak pernah digubris sama pihak pembuat acara.
Dan semoga penonton acara TV Indonesia bisa lebih cerdas untuk memilih mana acara yg memberikan nilai edukasi tinggi, dan menambah wawasan dan mana yg hanya menjadi tontonan yg kurang mendidik bahkan mematikan Aqidah.

https://www.facebook.com/Acursio.aizar/posts/1664365936975904

GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART


Bayi tidak bisa mengeluarkan mucusnya sendiri,
.
Chest percussion salah satu cara membantu bayi untuk mengeluarkan mucus, agar bayi tidak kesulitan saat bernafas, biasanya mucus akan keluar lewat mulut atau poo nya.
.
.
Langkah yang saya lakukan. Pelemasan anggota tubuh bayi, lalu pijat perut untuk membantu bayi mengeluarkan udara dalam perut (kadang2 fart), melakukan pijat ILU, Chest percussion, lalu pijat wajah.
.
.
Note: sebelum melakukan ini, berkonsultasilah pada dokter dan fisiotherapist 😊🙏
.



GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART


Menghindari Pergaulan Bebas
Diantara serbuan informasi yang turut mempengaruhi para remaja untuk berlaku bebas, bukan tidak mungkin sebenarnya untuk menghindari hal tersebut. Cara menghindari pergaulan bebas dengan benar dapat dilakukan melalu suatu proses sejak seseorang berusia dini.
1. Memperkuat Pendidikan Agama
Anak yang mempunyai dasar pendidikan agama serta moral yang kokoh tidak akan mudah terjerumus ke dalam pergaulan bebas, karena ia tahu dan bisa membedakan hal yang benar dan salah. Pendidikan agama dan moral dapat memperkuat iman seseorang sejak dini. Jika sejak kecil seseorang telah tertanam mengenai pengertian benar dan salah, biasanya ia akan dapat menghindari pergaulan bebas yang jelas – jelas merupakan hal yang tidak benar.
2. Membentuk Karakter yang Positif
Pembentukan 4 karakter manusia sejak kecil sangat diperlukan agar ia dapat menjadi pribadi yang kuat dan berpendirian kokoh, sehingga walaupun mempunyai kesempatan untuk hidup bebas, ia dapat mengendalikan dirinya. Teguh berpegang pada prindip hidup merupakan salah satu cara untuk menghindari pergaulan bebas
Robbi salimna Yaa Alloh. Mudah mudahan kita mewarisi generasi ya aaalim, mengerjakan perintah Nya dan menjadi larangan Nya. Amiin.


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART

Kapan Masuk SD
Saved..
Membaca kembali, diskusi parenting bu Elly Risman tentang kematangan usia anak masuk sekolah dasar. Semoga bermanfaat:-)😍
MAKJLEB
Pertanyaan:
Assalamu'alaikum ibu. Saya punya anak usia 5 tahun 5 bulan, awalnya saya mau masukkan SD, saya lakukan tanpa pengetahuan yang cukup. Setelah saya baca beberapa referensi, termasuk dari tulisan ibu, saya putuskan untuk kembali TK, padahal dia sudah bisa membaca, menulis dan berhitung. Ada yang ingin saya tanyakan bu, apakah itu tidak berpengaruh terhadap psikologis anak yang merasa kelasnya diturunkan? Walaupun anaknya terlihat tidak apa-apa.
Terima kasih sebelumnya bu.
🇯🇦🇼🇦🇧🇦🇳​:
Wa'alaikumussalam,
Saya senang sekali mendengar akhirnya ibu memutuskan untuk mengembalikan anak ibu ke TK. Beban SD sekarang sudah sangat, sangat berat. dan kalau dia masuk SD di usia yang sangat dini, kasihan.
Menjawab surat ibu, tentunya sedikit banyaknya pastilah ada pengaruh psikologis terhadap anak yang merasa kelasnya di turunkan (atau tidak naik-naik), walaupun anaknya terlihat tidak apa-apa. Untuk menghindari hal ini saya menyarankan teori hitung mundur, agar jangan karena salah kalkulasinya orang tua, anak yang terkena dampaknya.
Gini teorinya:
Katakan anak lahir bulan November (bisa bulan apa saja, nanti tinggal disesuaikan).
Idealnya masuk SD kan usia 7 tahun, dan tahun ajaran baru kan Juli.
Jadi, kalau mau masuk SD, ambil usia yang paling mendekati 7 tahun, kan berarti pilihannya hanya 6.8 tahun (nggak mungkin 7.8, ketuaan).
Nah, tinggal hitung mundur. Kalau masuk SD 6.8 tahun, maka masuk TK B-nya kurangi 1 tahun saja jadi 5.8 tahun.
Saya sarankan agar anak TIDAK masuk TK.A, karena TK hanya mengajarkan warna, huruf, angka, tepuk tangan, bernyanyi dan berbaris. Untuk apa sih melakukan itu bertahun-tahun, iya kan?
Tapiiii, kl bapak/ibu maksaaaaaaa masukin anaknya ke TK A, ya dengan hitungan di atas berarti TK A-nya di usia 4.8 tahun, dan kalau lebih keukeuuuhhhhh merekeeeuuhhh mau masukin anak ke playgroup ya 3.8 tahun. Gak, gak perlu PAUD sebelum itu. Wong playgroup dan TK A saja gak perlu kok.
Tapi kalau anak ibu sudah terlanjur sekolah playgroup sejak 2.5 tahun (apalagi yang lebih muda dari 2 tahun) ya berarti nanti TK A 3.5 tahun, TK B 4.5 tahun dan masuk SD 5.5 tahun.
SD negeri tampaknya punya peraturan untuk tidak membolehkan anak yg sebelia itu masuk SD (Saya kurang paham tentang hal ini)
SD swasta pun kalau tidak salah 5.10 tahun, jadi dengan demikian, kalau ibu yang memasukkan anak 2.5 tahun, pas anaknya lulus TK B 5.5 tahun, jadi kalang kabut sendiri. masuk SD belum 'bisa', masuk TK lagi, yang bener aja, masa' TK aja 4 tahun, bosenlah..
Jadi, minimal SD itu 6.5 tahun lah. Lebih bagus, kurang jangan.
Terus, kenapa gitu ga pake TK A? karena 0-8 tahun itu adalah anak usia dini. Anak usia dini ini kerjanya (dan maunya) cuma maiiiiiiinnnnnn melulu. Dari situ dan dengan cara itu mereka belajar. Kalau ibu masukin TK A, katakan 1 hari 3 jam saja, kalau TK A - nya masuk 3x seminggu, berarti seminggu ibu sudah mengambil 9 jam dari waktu bermainnya. Sebulan, jadi berapa jam? Setahun? Belum kalau ibu sekolahkan dia dari kelas toddler, paud, playgroup, TK A, ...dst. Sudah berapa jam ibu ambil waktu bermainnya? Anak yang terampas waktu bermainnya, akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan. Mau??
Jadi, kalau ibu sudah terlanjur salah hitung, saya sarankan pindah sekolah, mencegah pengaruh buruk akan 'teman-teman yang lain 'naik' kelas, dan dia 'tidak'. Kalau pindah sekolah kan setidaknya dia merasa 'lulus' juga dari sekolah itu dan pindah ke sekolah lain (walaupun TK kembali). Dan juga tidak jadi 1 kelas sama adik-adik kelasnya di TK A yang akan naik TK B. Banyak yang bisa protes bahwa anaknya begitu, tidak apa-apa. Efek psikologis tidak semua serta merta muncul, jadi bisa jadi sekarang tidak apa-apa.. nantinya..mana kita tahu kan?
Lalu, kenapa 'tidak boleh' anak-anak masuk SD terlalu dini? karena:
1. Kurikulum SD jaman sekarang sudah 'gila', tidak seperti SD jaman kita dulu. Anak masuk SD sekarang (seperti yang semua ibu-ibu ketahui dan lalui) sudah diharapkan membaca dengan lancar. Jaman kita dulu, di SD baru di ajarkan membaca. (siapa yang tidak ingat siapa kakaknya Budi?).
Sekarang, di kelas 1, anak sudah diharapkan bisa mengisi kalimat :
Hari Raya Nyepi dirayakan oleh umat yang beragama _______ .
Padahal anak yang baru belajar baca, baca 2 huruf mati yang bergabung seperti ng, ny, kadang masih susah.
Dan jujur saja, saya aja sulit hafal umat beragama mana yang merayakan hari raya apa, apalagi ketika saya umur 5 dulu. Dari pertanyaan itu saja kita bisa lihat bahwa BUKAN SAJA anak kita sudah harus bisa membaca dengan lancar, dia sudah harus mulai mengerti (atau menghafal?) banyak aspek lain. Jadi kalau membaca kalimat tersebut saja tidak bisa, apalagi menjawabnya, kan?
Jadi, jaman sudahh berubah, berhentilah melihat ke spion dengan kalimat-kalimat.. 'zaman saya sd dulu...', 'waktu saya kecil...', 'saya dulu gak papa...'... please dong.
Jaman bapak/ibu SD mah jaman kuda gigit besi (emang kuda gigit besi beneran?), jauh berbeda dengan jaman sekarang.
Kurikulumnya beda, otaknya beda, karakternya beda, ORANGNYA beda. Jangan di sama-samain. Bukannya bapak/ibu dengan ibu/bapaknya bapak/ibu dulu, beda juga kan?
Lalu, jaman kita (kayak jaman saya dan ibu sama aja ya, hehehe), mana bisaaaa masuk SD umur 5?? (apa sekolah saya aja ya yang gak ngebolehin?). Kecuali tangan ibu panjang banget sampai tangan kiri ibu bisa menyentuh kuping kanan melewati atas kepala, yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh anak-anak yang berusia menjelang 7. Terus, ada yang nanya, emang kenapa sih kalau anak-anak di ajar membaca lebih dini, So What Geto Loh ??. Pertanyaan yang bagus. yang membuat saya masuk ke nomer...
2. Yayasan kami pernah mengundang Dr. dr. H. Taufik Pasiak M.Pd, IM. Kes (semoga tidak ada kesalahan dalam penulisan titel ) seorang ahli otak (yang mau tau lebih lanjut tentang beliau, silahkan meng-googlenya sendiri), dalam sebuah seminar. Kata beliau kurang lebih seperti ini: saya heran, orang tua jaman sekarang ini seneng banget kalau anaknya sudah bisa baca sejak usia dini. Kayaknya semakin muda anaknya bisa baca, emaknya semakin bangga. Padahal ya, kalau dilihat dari ilmu otak, Allah belum mempersiapkan otak anak yang berusia 5 tahun untuk bisa membaca. Kenapa? karena huruf itu adalah simbol (gambar yg bentuknya begini:K, di baca nya KA. Dan kalau ditambah dengan sesuatu yg berbentuk i, di baca KI. ) Itu seperti menuangkan air ke gelas yang belum ada. Apa yang terjadi kalau kita menuangkan air ke gelas yg tidak ada? Ya, airnya tumpah kemana-mana. Begitulah kira-kira perumpamaannya. 'Pemaksaan' tersebut berdampak ke bagian-bagian otak yang lain yang bisa jadi tidak langsung terlihat dampaknya, tapi tetap berdampak.
Kita bu, suka 'memaksakan anak tanpa ilmu', nanti kalau anak 'rusak', kita tinggal bagian menyesalnya saja. Sudah telat, tidak ada lagi yang kita bisa lakukan. Banyak, saya yakin, yang akan membela diri dan mengatakan 'anak saya udah bisa baca dari umur 4th, sekarang tidak mengalami kesulitan mengikuti pelajaran, atau bahkan telah menjadi orang dewasa yang ternyata tidak kenapa-kenapa". Saya bukan ahli otak. Saya percaya saja dengan ahlinya yang sudah mempelajari organ misterius dari Allah itu bertahun-tahun lamanya (lihat aja dari titelnya yang panjang). Kalau ada yang mau melawan teori ini, monggo langsung saja menanyakannya ke Bapak Taufik yang saya yakin bisa menjawabnya dengan lebih baik. Saya hanya meneruskan ilmu, walau cuma se-ayat 😉
3. Saya merasa agama Islam juga 'menyarankan' demikian. Bukankah di usia anak yang ke-7 anak sudah boleh mulai diajarkan untuk shalat? Kesimpulan saya, di usia itulah anak sudah boleh diajarkan sesuatu yang lebih 'berat', dan lebih 'serius', sesuatu yang akan dilakukannya seumur hidupnya, setiap waktu: kalau dalam agama itu shalat, dalam edukasi, membaca. Untuk itu saya simpulkan bahwa ajaran Rasulullah yang telah berabad-abad diberlakukan, dengan temuan sains bapak Taufik beberapa tahun belakangan ini.. sinkron! Dan dengan alasan itulah menurut saya pula, masuk SD sebaiknya sedekat mungkin dengan usia 7. Masa' iya sekolah lebih penting daripada shalat?
Terus, gimana dong bu, kalau anaknya minta-minta terus?
Pertanyaan tersebut membawa saya ke poin nomer...
4. Kalau anak ibu meminta terus-menerus permen yang banyak yang ibu tahu akan merusak gigi dan ginjalnya, apakah ibu akan memberi?
Kalau anak ibu terus-menerus meminta bermain dengan gunting atau pisau yang tajam yang ibu tahu akan membahayakan dan melukai dirinya, apakah ibu akan memberi?
Kalau anak ibu minta adik 10 orang, apakah ibu akan memberi?
Kalau jawaban dari 3 pertanyaan di atas adalah TIDAK, kenapa sekarang dengan membaca artikel ini, ibu tahu bahwa mengajarkan anak usia 5 membaca akan berdampak buruk pada otaknya, dan dia minta-minta terus sekolah di usia yang sangat dini sehingga nanti dia masuk SD (dan sudah bisa membaca) di usia 5-an, ibu beri?
Bagian otak yang mengatur cara berpikir logis, membuat keputusan dengan bijak, dll (prefrontal cortex) baru matang di usia 25 tahun. Itu berarti bahwa kita bahkan harus 'membimbing' anak tentang jurusan yang akan dia ambil sewaktu kuliah (karena masuk kuliah kan belum 25 tahun). Lah, sekarang masa' iya dia yang 'menentukan' kapan masuk TK atau SD-nya sendiri?
Apalagi kalau alasan ibu adalah karena dia bongsor, takut ketuaan, bosen di rumah, dll, aduh itu saya udah gak mau bahas deh, saking gak masuk akalnya. Jangan-jangan ibunya juga belum 25 🙂
Jadi, kemampuan sosialisasinya gimana dong bu? Anak tidak perlu belajar sosialisasi dengan teman-teman seusianya di usia yang sangat dini. Kalaupun ibu sekolahkan, anak akan bermain dengan temannya, bukan bersama temannya. Apa bedanya?
Kalau dengan, si A main dengan boneka di sebelah si B yang lagi main dengan mobil-mobilan.
Kalau bersama, bonekanya dinaikin ke mobil-mobilannya dan mereka bersama-sama naik turun gunung yang dibuat dari kursi-kursi yang di balik-balik. Ngerti kan bedanya?
Di bawah 5 tahun, belum umurnya bermain bersama, apalagi belajar konsep yang lebih abstrak seperti sharing, gantian, ngantri, percaya diri.. hedeeeh, jauh beneeerr. Orang dewasa aja banyak yang belum bisa begitu kan?;)
'sosialisasi' dan semua konsep di atas itu di ajarkan dan dilatih di rumah juga sudah cukup. dengan dan oleh ibu, bapak, syukur-syukur ada mbak, nenek, kakek, anak tetangga sebelah kanan, dan kiri. Kalau gak ada, ketemuan sama sepupunya yang sebaya seminggu sekali juga cukup. Percayalah.
Kalau emang dasarnya anaknya pemalu, bakal jadi pemalu juga nantinya. Pemalu mah karakter, gak bisa diubah. Toh ada juga kan orang dewasa yang pemalu? Lagipula, malu itu bagus. Justru yang mengkhawatirkan kita sekarang adalah generasi yang gak ada malunya kan? (nyowel kasus SMP mesum beberapa waktu lalu). Jadi, sifat pemalu itu justru positif, jangan dihilangkan.
Kalau sekolah terlalu dini, terus pas kelas 3 SD nya bosen, apa gak lebih ruwet? Lah gimana gak bosen..nih ya: TK 3 tahun (4 kalau maknya pake salah ngitung), kalau dia masuk SD-nya umur 5 tahun, berarti pas dia kelas 3 SD umur 7 tahun, dia udh 6 tahun sekolah. Gila kan? Padahal sekolah masih 13 tahun lagi, itu kalau S1-nya selesai 4 tahun, belum dihitung S2. Kalau kelas 3 aja udah bosen, gimana mau S3??
Jadi bu, membaca itu sama hal nya dengan ibadah, yang penting itu bukan bisanya, tapi sukanya. Siapa sih sekarang yang gak bisa shalat? gak bisa baca? bisanya sih gampang, suka nya itu lho yang susah. Jadi sebelum 7, fokus ke sukanya sajalah dulu, tanamkan suka membaca dengan menyediakan buku di setiap sudut rumah, membaca bersama setiap waktu, dan lain-lain. Jangan sibuk memasukkan anak les calistung di tempat-tempat yang saya yakin ibu lebih hafal namanya. Yang sudah melakukan 'kesalahan' ini di anak pertama, jangan melakukannya lagi di anak kedua dan seterusnya. Cukup kakaknya saja yang jadi kelinci percobaan ibu-bapaknya menjadi orangtua.
Jadi demikan bu, semoga dengan anak ibu masuk usia SD nanti 6.5 tahun, dia sudah lebih siap, matang dan happy. Jadi yang paling tua di kelas karena teman-temannya di bawah 6 semua? gak papa. Orangtua anak-anak yang lain mungkin belum punya ilmunya. Semoga anak ibu jadi trend-setter, syukur-syukur ibu bisa meneruskan ilmu ini untuk orangtua lainnya, (terutama ayahnya anak-anak, karena biasanya mereka tidak mengerti dan ngotot ) bahwa berbeda untuk kebaikan itu tidak apa-apa 🙂 .....
Sumber : YKBH


GRIYA HILFAAZ
Busana Muslim Berkualitas
💈webinfo : www.griyahilfaaz.com
💈IG : @griya_hilfaaz
💈Shopee : @griya_hilfaaz
💈Facebook: @griya_hilfaaz
💈Tokopedia: @griya_hilfaaz
💈Bukalapak: @griya_hilfaaz



Toko Busana Keluarga Muslim

SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART
SHOPCARTSHOPCARTSHOPCART